Satu Anakan di Ujung Kulon dan Dua Betina di Kalimantan: 2026 Jadi Tahun Kritis bagi Badak Asia
Uncategorized

Satu Anakan di Ujung Kulon dan Dua Betina di Kalimantan: 2026 Jadi Tahun Kritis bagi Badak Asia

Bayangin, di satu sisi ada kabar gembira datang dari ujung barat Jawa. Seorang ibu badak bernama Arum terpantau lagi jalan-jalan di hutan, ditemani anaknya yang masih kecil banget. Di sisi lain, di Kalimantan, dua ekor betina badak yang tersisa malah jadi simbol keputusasaan.

  1. Tahun yang penuh kontras buat badak Asia.

Dari yang namanya harapan, sampe yang namanya genting. Semua terjadi barengan. Dan kisah dua nasib ini, bakal nentuin masa depan salah satu mamalia paling langka di dunia.


Kabar Baik dari Ujung Kulon: Anakan Pertama 2026

Kita mulai dari kabar yang bikin senyum.

Tanggal 29 Januari 2026, tim monitoring dan evakuasi operasi “Merah Putih” lagi ngecek kamera jebak (camera trap) di Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon . Jam 10.17 malam, kamera merekam sesuatu yang bikin mereka terkesiap: seekor induk badak jawa, ditemani anak kecilnya .

Induknya, berdasarkan analisis awal, adalah Arum—badak betina yang udah tercatat dalam sistem pemantauan sebelumnya . Anaknya, mulus banget, masih berusia kurang dari lima bulan .

“Keberadaan induk dan anakan badak jawa yang terekam menunjukkan habitat di Ujung Kulon masih terjaga dengan baik,” kata Dirjen KSDAE Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko . “Pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, plus dukungan kerja sama dari berbagai pihak, jadi faktor kunci yang memungkinkan badak jawa berkembang biak secara alami.”

Ini bukan cuma sekadar kabar baik biasa. Ini bukti. Bukti bahwa strategi konservasi di Ujung Kulon bekerja. Patroli ketat, pemantauan teknologi, pengelolaan habitat—semua mulai berbuah . Badak jawa yang dulunya tinggal 50 ekor-an itu, perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

Tapi hati-hati. Ini bukan berarti aman.


Kritis di Kalimantan: Dua Betina dan Bayi Tabung

Cerita di Kalimantan, jauh berbeda.

Di sana, subspesies badak sumatra Dicerorhinus sumatrensis harrissoni, yang dikenal sebagai badak Kalimantan, kondisinya genting banget .

Data terbaru menunjukkan, populasi badak Kalimantan sekarang cuma tersisa dua ekor betina :

  1. Pahu, yang berada di penangkaran Suaka Badak Kelian, Kutai Barat .
  2. Pari, yang masih hidup liar di hutan Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur .

Yang bikin situasi ini lebih parah: tidak ada satupun pejantan yang diketahui masih hidup . Tanpa pejantan, reproduksi alami ya mustahil. Punah tinggal nunggu waktu.

“Badak Sumatera di Kalimantan lebih kecil dari yang di Sumatera. Tingginya cuma 101 cm dengan bobot 356 kg, sementara yang di Sumatera hampir 150 cm dan berat 800 kg,” jelas Ari Wibawanto, kepala BKSDA Kalimantan Timur . Karena perbedaan ukuran ini, perkawinan alami antar subspesies juga sulit.

Rencana Bayi Tabung: Harapan Terakhir yang Berisiko

Para ilmuwan nggak tinggal diam. Mereka punya satu harapan terakhir: bayi tabung atau fertilisasi in vitro (IVF) .

Rencananya, sel telur Pari (yang lebih muda, sekitar 30 tahun) akan diambil dan dibuahi dengan sperma dari pejantan badak sumatra yang ada di Sumatera . Embrio hasil persilangan antar subspesies ini, nanti akan ditransfer ke badak betina lain sebagai induk pengganti .

Tapi, ini bukan proses yang mudah. Bahkan, kata Ari Wibawanto: “Kami memperkuat prosedur kami untuk memastikan tidak ada masalah teknis, masalah kesehatan, atau masalah perilaku, sehingga hewan tidak mengalami stres” .

Bayangan Tragedi Sebelumnya

Rencana ini punya beban sejarah yang berat. Percobaan sebelumnya punya catatan kelam:

  • 2025: Seekor badak jawa bernama Musofa mati setelah translokasi pertama di dunia untuk spesies tersebut .
  • 2016: Seekor betina badak sumatra juga mati setelah proses relokasi .

Pelajaran dari tragedi ini dijadikan landasan: prosedur harus lebih kuat, penanganan harus lebih hati-hati, dan risiko harus diminimalkan Ini bukan sekadar eksperimen, ini nyawa.


Ancaman yang Sama: Perburuan dan Habitat

Keduanya, badak jawa dan badak kalimantan, menghadapi ancaman yang sama: perburuan liar dan kehilangan habitat.

Cula badak, diyakini punya khasiat obat di beberapa budaya, harganya selangit. “Satu kilogram cula badak sumatra nilainya bisa mencapai Rp 500 juta,” ungkap Doris Pandjaitan, Wakil Ketua Yayasan Leuser Internasional .

Fantastis. Bayangin, itu setara dengan harga rumah di pinggiran kota. Nggak heran, jaringan pemburu internasional rela melakukan apa saja.

Bahkan, di Kawasan Ekosistem Leuser (Aceh) yang notabene jadi rumah bagi sekitar 80 ekor badak sumatra, tahun lalu 21 orang Vietnam ditangkap di lokasi penemuan badak. Mereka tertangkap di lokasi penemuan badak sumatra, dengan visa kedaluwarsa . Mereka dicurigai sebagai bagian dari jaringan perdagangan cula internasional.

Di Kalimantan, perburuan dan perluasan lahan pertanian dan pertambangan telah menghancurkan habitat badak. Populasi yang rendah membuat mereka sulit berkembang biak . Di Ujung Kulon, meski aman saat ini, ancaman tetap ada.


3 Hal yang Bisa Kita Lakukan (Actionable!)

1. Dukung Organisasi Konservasi yang Kredibel

Cari organisasi seperti WWF, Yayasan Badak Indonesia (YABI), atau Leuser International Foundation. Bisa donasi rutin, ikut kampanye, atau bahkan jadi relawan.

2. Lawan Perdagangan Satwa Ilegal

Jangan pernah beli produk yang terbuat dari bagian tubuh satwa langka. Laporkan ke pihak berwenang kalau nemu indikasi perdagangan ilegal. Jangan jadi bagian dari rantai kematian mereka.

3. Sebarkan Kesadaran

Ceritakan kisah ini ke teman-teman lo. Sharing is caring. Semakin banyak yang tahu, semakin besar tekanan publik untuk melindungi mereka.

Anda mungkin juga suka...